Selasa, 02 Oktober 2012

Pengetahuan cerita cinta


Cinta Tidak Harus Memiliki

Namaku Ratri, usiaku sekarang 17 tahun. Kisah cinta ini mungkin tragis, mungkin kalian menganggapku bodoh, tetapi aku ingin membaginya dengan kalian.
***
Aku jatuh cinta pertama kali saat duduk di bangku SMP, kelas 1. Pemuda itu.. sebut saja Nicko. Dia bukan tipe pemuda yang disukai banyak siswi, aku juga tidak tahu kenapa bisa menyukainya. Mungkin senyumnya yang hanya berbentuk lengkung kecil, mungkin suara tawanya saat berhasil mencetak gol ketika pelajaran olahraga, mungkin sikap diamnya, entahlah..
Waktu itu aku terlalu malu untuk mengungkapkan perasaanku padanya. Aku hanya bisa diam-diam memperhatikan. Aku suka dengan wajah seriusnya saat mengerjakan tugas kimia atau matematika. Wajah dan senyum yang berhasil meluluhkan hatiku, membuatku selalu memikirkannya, tersenyum sendiri, membayangkan jika dia menggandeng tanganku dan hal-hal alami yang akan dirasakan saat seorang gadis sedang jatuh cinta.
Semua terasa indah..
Walaupun hanya dalam anganku saja.
Bodohnya, aku tidak berani memberi sinyal rasa sukaku. Kami hanya seperti teman biasa yang saling bercanda dan semua tampak biasa. Padahal, sejujurnya aku ingin dia tahu perasaanku, dan berharap dia merasakan hal yang sama.
Ah cinta.. mengapa begitu rumit?
Saat kelas 2 SMA, Yuda berpacaran dengan seorang siswi yang satu kelas denganku. Jangan tanya betapa remuk hatiku menerima kenyataan tersebut. Bunga cintaku harus layu sebelum berkembang. Tidak ada yang tahu perasaanku, bahkan ibu dan sahabat-sahabatku, semua aku pendam seorang diri. Aku berusaha menutup rapat perasaanku, menguburnya jauh-jauh. Tetapi tidak bisa, aku tetap menyukai Yuda, mencintainya sepanjang waktu.
Tahun demi tahun berlalu. Aku sudah menyelesaikan kuliahku dan berpacaran dengan seorang pria baik. Anehnya, aku masih saja memikirkan Yuda. Seperti ada ganjalan aneh yang belum sempat aku sampaikan padanya.
Kondisiku serba salah, hatiku masih mencintainya, aku ingin Yuda tahu bahwa aku menyukainya, itu saja. Aku ikhlas jika cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku hanya ingin melegakan hatiku, agar aku merelakannya. Tetapi aku tidak bisa melakukannya, aku sudah punya kekasih, dan Yuda.. tiga bulan lagi (saat aku menulis kisah ini), dia akan menikah.
Aku mencintainya..
aku ingin dia bahagia,
walaupun bukan denganku.
Hingga saat ini, dia tidak tahu bahwa aku menyimpan sepenggal hati untuknya. Biarlah.. mungkin kalian menganggap kisah ini bodoh, tetapi aku tidak punya kuasa untuk memilih dengan siapa aku akan jatuh cinta.
Mungkin apa yang sering dikatakan orang-orang benar adanya..
Cinta tidak harus memiliki.

Aku Cinta Kamu Dan Dia

Tak pernah terbayang sebelumnya di benakku, bisa mencintai dua orang sekaligus. Aku tahu ini salah, tetapi yang aku tak tahu adalah bagaimana bisa memilih dia tanpa menyakiti hatimu.
"Bang, besok kita jadi ke pantai?" tanyaku sambil tetap asyik dengan ponsel di genggamanku. "Nggak jadi ah kamu sibuk sendiri gitu!" candanya sambil mengacak-acak rambutku. Dipa adalah sosok pria yang belum lama ini dekat denganku. Sebenarnya kami sudah saling kenal cukup lama, tetapi tak ada yang menyadari mulai kapan perasaan kagum dan sayang itu muncul. Aku sendiri memanggilnya abang karena ia memang sangat perhatian padaku. Usia kami berbeda 5 tahun, dan ia tahu benar bagaimana cara memanjakan aku.
Namaku Amel, aku punya kekasih. Ya! Aku punya kekasih yang aku sayangi. Tetapi aku tak dapat menolak kedekatanku dengan Dipa ini. Diam-diam tiga bulan ini kami jalan, ke sana kemari berdua. Saling menghujani satu sama lain dengan perhatian. Menjaga dan bercanda, kami seperti sepasang kekasih yang saling mengagumi satu sama lain. Tak pernah kehabisan bahan cerita dan seperti bisa saling menutupi kekurangan masing-masing.
Kekasihku. Hmm... sebenarnya aku mencintainya. Kami toh sudah jalan lebih dari 3 tahun lamanya. Tetapi entah kenapa kami seperti orang asing yang tak punya chemistry satu sama lain. Bercanda saja kami jarang. Tetapi ajaibnya kami bisa bertahan dalam hubungan untuk sekian lama. "Lalu mengapa harus dipertahankan?" pertanyaan tersebut selalu menggangguku setiap saat. Sayangnya hingga kini, aku tak juga tahu jawabannya.
***
"Kamu tahu, setiap ada di dekatmu aku selalu ingin memelukmu. Serasa tak ingin melepaskanmu..." kata Dipa saat kami menikmati matahari tenggelam di pantai sore itu. Aku terdiam. Aku tak dapat berkata apa-apa dan menikmati pelukannya. Namun, ada sedikit rasa tak nyaman juga di dalam hatiku. Aku teringat pada kekasihku, yang entah hari ini sedang ngapain hehe. Tetapi setidaknya memang aku merasa bersalah padanya, dan kian hari rasa bersalah itu semakin besar.
"Bang, sampai kapan memangnya kita harus begini terus?" tanyaku?
"Maksudmu itu apa? Ya sampai selamanyalah..." kata Dipa.
"Bukan begitu. Tapi... aku butuh kepastian, bang. Kita nggak bisa seperti ini terus. Kita butuh kejelasan hubungan," kataku lagi melepaskan pelukannya dan kemudian menatap dalam-dalam matanya.
"Hmm... aku tahu maksudmu. Tetapi, aku sendiri tak tahu harus bagaimana saat ini. Lebih baik kita jalani saja dulu ya..." Dipa meraih tanganku, memainkan rambutku dengan lembut. Aku tetap membisu. Tak tahu harus berkata apa padanya.
***
"Nak Amel, tante itu senang lho Ricky bisa jalan dengan nak Amel sekian lama. Maksud hati sih kalian lekas meresmikan hubungan saja," kata tante Lia saat mengajakku ngopi sore itu. Aku nyaris tersedak. Tak pernah terpikir sebelumnya di benakku tante Lia akan ngobrol tentang hal itu. Oya, tante Lia adalah ibu Ricky, kekasihku. Sebenarnya ia juga adalah teman ibuku, jadi ceritanya dulu memang kami sengaja dikenalkan.
Ricky sendiri hanya senyum-senyum duduk di sampingku, tak berkomentar apa-apa. Dan aku tak bisa menebak apa yang ada di dalam pikirannya.
"Iya, beneran nih. Tante sudah bicara sama mama dan papamu. Mereka setuju kok kalau kalian segera menikah tahun ini. Kami sudah tak sabar ingin menimang cucu..." ungkap tante Lia sambil tertawa senang hatinya. Aku menanggapinya dengan senyum yang aku tak tahu itu apa. Aku hanya tak tahu harus berkata apa.
***
"Bang, aku mau dinikahin nih," kataku pada Dipa. Ia terdiam. "Maksudmu dengan dinikahin itu apa?" ia bertanya balik. "Ya orangtuaku dan tante Lia setuju kalau aku dan Ricky segera menikah. Mereka malah sudah merencanakan hal itu. tahun ini."
"Lalu, kamu bilang apa?" wajah Dipa mulai serius. Ia meninggalkan kesibukannya dan tampak mulai khawatir. "Ya aku nggak bilang apa-apa sih. Tapi..."
"Tapi apa? Kamu bilang nggak mau kan?" ia semakin gusar.
"Aku rasa aku nggak bisa menolaknya, bang." aku memalingkan wajah darinya. Aku takut melihat kekecewaan di wajahnya.
"Aku... aku balik dulu Mel. Aku ada perlu." Aku sudah menyangka ini akan terjadi. Dipa kecewa dan terluka. Aku harus bagaimana? Berpikir selama beberapa detik, kemudian aku mengejarnya.
"Bang... tunggu!" kataku. "Gimana kalau kita kawin lari?" aku tak pernah menyangka bahwa kalimat ini akan keluar dari mulutku. Namun nyatanya keluar juga. Dipa terdiam dan tak berpaling padaku. Kuhentikan langkahku dan menunggu ia berbalik dan memelukku. Ia tak pernah berbalik. Ia meneruskan langkahnya dan memacu motornya dengan kecepatan tinggi.
***
"Kamu cantik lho Nak Amel dengan busana pengantin ini," kata tante Lia padaku. Mama mengangguk setuju. Akupun tersipu di depan mereka.
Hari ini adalah hari pernikahanku dengan Ricky. Hari yang diharap-harapkan oleh banyak orang untuk melihatku bahagia. Kalau dipikir-pikir, aku sebenarnya beruntung. Bisa menikah dengan orang yang aku cinta, direstui dan didukung oleh keluarga. Tetapi seperti ada yang hilang di dalam hatiku.
Dipa. Entah ke mana ia pergi setelah hari itu. Aku tak pernah melihat dan mendengar kabarnya lagi. Ia seperti lenyap ditelan bumi. Aku sendiri tak berniat mencarinya, karena kupikir ia akan berbalik dan memelukku.
Aku juga tak pernah terbayang bagaimana bila ternyata hari itu ia mengiyakan ajakanku. Mungkin saat ini aku tak melihat tante Lia, tak melihat senyum di wajah mama dan papa.
Haha. Bodohnya aku. Mengapa sampai terucap kalimat itu. Bukannya aku seharusnya tahu bahwa hubungan kami itu nggak mungkin terwujud.
"Amel, semua sudah menunggu di bawah," kata mama memintaku untuk segera turun dan bersiap untuk ijab kabul. "Iya, ma... sebentar lagi," kataku.
Kupandang lagi cermin di kamarku, kemudian beralih mencari udara segar di jendela kamar. "Baiklah, ini mungkin sudah menjadi jalanku. Aku tak bisa mundur lagi. Maafkan aku, Bang Dipa. Aku tak bisa menunggu sesuatu yang tak pasti darimu. Aku mencintaimu, namun aku juga mencintai dia," kataku dalam hati kemudian beranjak dari kamarku.

Dia Pergi Meninggalkan Cinta Untukku

Aku membencinya. Kata itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir di sepanjang kebersamaan kami. Meskipun aku telah menikahinya, aku tidak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua membuatku membenci suamiku sendiri. Walaupun menikah dengan rasa terpaksa, aku tidak pernah menunjukkan sikap benciku kepada suamiku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tidak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan untuk meninggalkannya tapi aku tidak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orang tuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri semata wayang mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang sangat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang dia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga aku merasa dia sudah berkewajiban membuatku bahagia dan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tidak ada seorang pun yang berani melawan keinginanku. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tidak suka handuknya yang basah diletakkan di tempat tidur. Aku sebal melihatnya meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket. Aku benci ketika dia memakai komputerku untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dan aku juga marah kalau dia menghubungiku berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, aku tidak mau mengurus anak. Awalnya, dia mendukung keputusanku untuk minum pil KB. Rupanya dia menyembunyikan keinginan begitu dalam untuk memiliki anak. Hingga suatu hari aku lupa minum pil KB. Dia tahu namun membiarkannya. Singkat cerita, aku hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan. Itulah kemarahan terbesarku padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh dia melakukan semua keinginanku.
Waktu berlalu hingga anak-anak tidak terasa berulang tahun yang ke-8. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, dia mengingatkan aku kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya. Aku memilih pergi ke mall dan tidak hadir di acara ibu.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, dia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Dia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi. Ketika mereka pergi, aku memutuskan untuk pergi ke salon. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, aku terkejut ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam, aku tidak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tidak bisa kutemukan aku menelepon suamiku.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tidak punya uang kecil. Maka kuambil uang dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu dan kalau tidak salah aku meletakkannya di atas meja kerjaku.” katanya sambil menjelaskan dengan lembut.
Aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. tidak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi. Meski masih kesal, aku mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada di mana?” tanya suamiku cepat, khawatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. tidak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering, suamiku sudah mengangkat teleponku. Aku mulai merasa marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, Ibu. Apakah ibu istri dari Bapak Arman?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi yang memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini dia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian.
Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tidak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib, terdengar seorang dokter keluar menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Dia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri. Serangan stroke lah yang menyebabkan kematiannya. Sama sekali tidak ada airmata keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah, ibu dan mertuaku. Anak-anak memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tidak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak di mataku dan mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tidak menghalangi tatapan terakhirku padanya. Aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tidak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku.
Aku ingat betapa aku tidak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tidak pernah mengatur pola makannya. Dia selalu mengatur apa yang kumakan, memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan, dan dia pula yang tidak pernah absen mengingatkanku makan teratur. Bahkan terkadang dia menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tidak pernah tahu apa yang dia makan karena aku tidak pernah bertanya. Aku tidak tahu apa yang dia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu dia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tidak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tidak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Dia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa.
Saat pemakaman, aku tidak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun jasadnya. Aku tidak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tidak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan. Aku terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku yang membujukku makan kalau aku sedang malas makan. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa. Ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap dia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Aku marah pada diriku sendiri. Aku marah karena semua terlihat normal meskipun dia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana dan meninggalkan wangi yang membuatku rindu. Aku marah karena tidak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tidak ada lagi yang membujukku agar tenang dan tidak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahkan padaku dan meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tidak pernah bekerja. Yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang dia transfer ke rekeningku untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tidak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tidak menyangka bahwa ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Aku tidak pernah sedikitpun menggunakan gaji itu untuk keperluan rumah tangga. Yang aku tahu sekarang, aku harus bekerja atau anak-anakku tidak akan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Dia membawa banyak sekali dokumen. Notaris itu memberikan surat pernyataan bahwa suamiku mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak. Yang membuatku tidak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. Maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab dan mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tidak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Tuhan memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu. Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingimu selamanya.
Tetapi aku tidak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tidak ingin kalian susah setelah aku pergi. Tidak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap kamu bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tidak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau dia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya, dia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tidak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tidak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tidak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Cintaku Pupus Karena Beda Agama

Usiaku 20 tahun ketika berkenalan dengan Angga, dia adalah teman satu kampus denganku. Walaupun beda fakultas, kami sering bertemu saat makan di kantin atau saat menghadiri acara kampus. Singkat cerita, kami saling jatuh cinta dan mulai berpacaran.
Angga adalah pemuda yang baik dan sopan, dia juga bukan tipe pria yang suka mempermainkan wanita, karena itulah aku jatuh cinta padanya. Tetapi di balik sifat baiknya, ada satu hal yang bisa menjadi penghalang hubungan kami, yaitu agama yang berbeda.
Sejak awal, kami menekankan bahwa tidak boleh ada pacaran diam-diam, kami serius dengan hubungan kami, sehingga orang tua kami harus tahu.
Pada awalnya, kedua orang tua kami menerima hubunganku dan Angga, mereka tidak mempermasalahkan perbedaan kami yang sangat prinsip. Aku dan Angga juga tidak pernah saling memaksa, kami tetap beribadah sesuai agama kami. Aku menghargai Angga dan agamanya, demikian juga dia. Itulah yang aku suka darinya, pemikiran yang dewasa dan tidak pernah memaksa.
Tanpa terasa, hubungan kami berjalan empat tahun. Aku dan Angga beberapa kali membicarakan pernikahan. Mulai dari menabung agar bisa menikah legal di negara lain (kami ingin tetap memegang agama masing-masing saat menikah), hingga bagaimana saat kami punya anak nanti. Semua sudah kami bicarakan dan baik-baik saja.
Hingga.. orang tua kami sedikit demi sedikit menentang hubungan kami. Di kedua belah pihak, mereka ingin agar hubungan kami berakhir. Bagi orang tuaku dan orang tua Angga, hal yang paling prinsip tidak akan bisa disatukan dengan cinta. Bisa saja kami menerima di awal, tetapi akan banyak cemooh dari orang-orang.
Semakin hari, kedua orang tua kami semakin keras menentang hubungan kami. Sekuat apapun aku dan Angga menjelaskan, mereka tidak mau terima. Kedua orang tuaku ingin agar Angga masuk agamaku, sedangkan orang tua Angga ingin agar aku masuk agama mereka.
Bukannya tidak ingin mengalah atau egois, aku dan Angga pada akhirnya sama-sama mengalah. Kami tidak ingin hubungan keluarga hancur jika kami memaksa. Akhirnya aku dan Angga memutuskan hubungan kami, memutuskan ikatan cinta kami.
Jangan tanya bagaimana perih dan sakitnya hatiku, aku juga merasakan hal yang sama pada Angga. Kami sama-sama terluka, kami saling mencintai tetapi harus berpisah dengan perbedaan ini.
Mungkin Angga memang bukan jodohku, dan mungkin aku memang bukan jodoh untuk Angga.
Aku masih belajar untuk menerima kenyataan ini, sulit memang, tetapi aku tidak bisa memilih antara cinta, agama dan orang tuaku.
Mengalah tak selamanya kalah, aku juga masih menghormati orang tuaku.
Semoga kelak, aku bisa mendapatkan pria yang baik..


Suamiku Mencintai Wanita Itu
Selama bertahun-tahun, kehidupan pernikahan kami berjalan sebagaimana mestinya. Dia selalu memenuhi kebutuhan keluarga sebagaimana mestinya. Kami juga tidak pernah bertengkar hebat karena hal-hal tertentu. Saat pertengkaran kecil melanda, dia cenderung diam selama beberapa saat. Setelah emosinya mereda, dia pun kembali bersikap seperti biasa.
Suamiku biasa menciumku dua kali sehari yaitu sebelum dia berangkat bekerja dan sepulang dia bekerja. Kebiasaan ini sudah menjadi patokanku bahwa dia mencintaiku dengan segenap hati dan perasaannya karena sewaktu pacaran pun dia tidak pernah romantis. Kami jarang mengobrol sampai malam, jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua di luar pun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami. Alih-alih obrolan hangat, yang terdengar hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu. Kalau hari libur, dia lebih sering tiduran di kamar atau bermain dengan anak-anak. Dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.
Aku mengira rumah tangga kami baik-baik saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, di suatu hari yang terik, suamiku tergolek sakit di rumah sakit. Karena jarang makan dan sering jajan di kantornya dibandingkan makan di rumah, dia kena typhoid dan harus dirawat di rumah sakit. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia bernama Rika, teman Dhika di masa kuliah. Rika tidak secantik aku. Dia begitu sederhana. Tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah penuh kehangatan dan penuh cinta. Ketika dia berbicara, seakan-akan waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimatnya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita. Rika tidak pernah kenal dekat dengan Dhika selama mereka kuliah dulu. Rika bercerita Dhika sangat pendiam sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu karena ada pekerjaan kantor yang mempertemukan mereka. Rika yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Dhika yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.
Aku mulai mengingat-ingat. Lima bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Dhika. Setiap akan berangkat bekerja, dia tersenyum manis padaku. Dalam sehari, dia bisa menciumku lebih dari tiga kali. Dia juga membelikan aku parfum baru dan mulai sering tertawa lepas. Tapi di saat lain, dia sering termenung di depan komputernya. Ketika aku bertanya, dia hanya berkata bahwa ada pekerjaan yang membingungkan.
Suatu saat Rika pernah datang pada saat Dhika sakit dan masih dirawat di rumah sakit. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal karena Dhika tidak mau aku suapi. Rika masuk ke kamar dan menyapa dengan suara riangnya, “hai Rima, apa yang terjadi dengan anak sulungmu ini? Tidak mau makan juga? Uhh… dasar anak nakal, sini piringnya," lalu dia terus mengajak Dhika bercerita sambil menyuapi Dhika. Tiba-tiba saja sepiring nasi itu sudah habis di tangannya. Dan... aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku seperti siang itu. Aku tidak pernah bertanya apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu apa yang bergejolak di hatinya.
Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta. Aku tidak pernah menyangka hatiku pun akan mendung dan bahkan gerimis. Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, berhasil membuka password email papanya dan memanggilku, “Mama, mau lihat surat papa buat Tante Rika?” Aku tertegun memandangnya, dan membaca isi surat elektronik itu:
Dear Rika,
Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku. Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh-sungguh mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu. Tidak ada perasaan rindu ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik terjadi seperti saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa. Tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa meskipun aku menikahinya.
Aku tidak tahu bagaimana cara menumbuhkan cinta untuknya seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami. Itu yang aku rasakan.
Aku tidak akan pernah bisa memilikimu karena kau sudah menjadi milik orang lain. Dan aku adalah laki-laki yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Rima bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak dengan jiwaku dan cintaku yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku berharap engkau mengerti bahwa you are the only one in my heart.
yours,
Dhika
Mataku terasa panas. Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain. Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, mobil yang dia berikan untukku kukembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa uang belanja dan aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak-anakku. Dhika merasa heran karena aku tidak pernah lagi bermanja. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena malu terlalu lama pacaran di saat teman-temanku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.
Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya? Mengapa dia tidak mengatakan saja bahwa dia tidak mencintaiku dan tidak menginginkanku? Itu jauh lebih kuhargai daripada hanya diam dan melamarku serta menikahiku.
**********
Setahun kemudian..
Rika membuka amplop surat itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan dipenuhi bunga.
Dhika, suamiku..
“...Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah. Engkau tidak lagi sedingin es. Namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Rika...”
Di surat yang kesekian,
“…Aku bersumpah akan membuatmu jatuh cinta padaku. Aku telah berubah, Dhika. Aku tidak lagi marah-marah padamu, tidak lagi suka membanting barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar memasak dan tidak lagi boros. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku merawatmu jika engkau sakit dan aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi. Aku menungguimu sampai tertidur di samping tempat tidurmu di rumah sakit saat engkau dirawat. Meskipun sinar cinta itu belum terbit dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya...”
Rika menghapus airmata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya. Dipeluknya Fika yang tersedu-sedu disampingnya.
Di surat terakhir, pagi ini…
“...Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang ke rumah. Tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang karena hari ini aku memasak makanan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya di rumah Bude Tuti sampai kehujanan dan basah kuyup karena waktu pulang hujannya deras sekali dan aku hanya mengendarai motor.
Saat aku tiba di rumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran di matamu. Engkau memelukku dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit. Tahukah engkau suamiku... Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda cinta mulai bersemi di hatimu?”
Fika menatap Rika, dan bercerita,
“Siang itu Mama menjemputku dengan motornya. Dari jauh aku melihat keceriaan di wajah mama. Dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu. Dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah-marah kepadaku, aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya di seberang jalan dan ketika mama menyeberang jalan, tiba-tiba mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi. Aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante. Aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak."
Fika memeluk Rika dan terisak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa. Rika mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Dhika mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.
Dear Rika,
Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda. Dia tidak lagi marah-marah dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan. Aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba-tiba aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar. Inikah tanda aku mulai mencintainya? Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Rika. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya. Aku akan membelikan mobil mungil untuknya supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak-anakku, tapi karena dia belahan jiwaku.
Rika menatap Dhika yang tampak semakin ringkih dan terduduk di samping nisan Rima. Di wajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Dhika. Kadang kita baru menyadari bahwa kita mencintai seseorang ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.

5 komentar:

  1. ceritanya menyentuh...penuh makna! aku suka... aku akan ingat nama blog ini... insyaallah di sela2 kesibukn aku akan menyempatkan untuk melihat blog ini...!!!

    BalasHapus
  2. sangat menyentuh , menginspirasi meski dari hal yang menyedihkan :)

    BalasHapus
  3. ABENG SHOP
    sedia perangsang wanita, obat kuat sex, pembesar penis, penyubur sperma.dll
    CALL/SMS :
    087739320016 - 082328992010
    PIN BB : 2ABCFB8D
    kunjungi juga toko online kami di abeng-shop.blogspot.com

    BalasHapus
  4. keren ceritanya
    www.jualdildo.asia

    BalasHapus